Sambutan Peluncuran Kampanye Hari Toleransi Internasional 16 Nopember 2011
Sambutan Ketua Badan Pengurus SETARA Institute
Pada Peluncuran Kampanye Hari Toleransi Internasional
16 Nopember 2011
Jakarta, 13 Nopember 2011
Saudara-saudara sekalian yang saya hormati,
Tanggal 16 Nopember adalah tanggal yang ditetapkan sebagai Hari Toleransi Internasional, di mana bangsa-bangsa di dunia semestinya merayakannya sebagai bentuk upaya terus menerus mempromosikan toleransi atas dasar apapun. Penetapan tanggal 16 sebagai Hari Toleransi merujuk pada 16 Nopember 1995, di mana organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya-United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengadopsi Declaration of Principles on Tolerance, sebuah deklarasi yang dimaksudkan menegaskan kembali pentingnya mempromosikan dan menjamin toleransi sebagaimana telah ditegaskan dalam sejumlah instrumen internasional hak asasi manusia.
Bertoleransi adalah cara bagi kita semua untuk menangkal prasangka dan kebencian. Demikian Ban Ki-Moon, Sekretaris Jenderal PBB sebagaimana disampaikannya dalam pesan Perayaan Hari Toleransi 2011. Prasangka dan kebencian selalu disulut oleh ketidakmampuan kita menerima fakta sosiologis kemajemukan yang ada di sekitar kita. Banyak aspek di sekitar kita yang memang secara given adalah beragam dan berbeda: berbeda suku, agama, ras, orientasi politik, orientasi seksual, dan lainnya. Terhadap berbagai keberagaman itu, tugas kita adalah mengakui dan menyantuninya. Dengan mengakui dan menyantuni maka perbedaan bukanlah alat pembedaan yang melahirkan peminggiran bagi yang lain, hanya karena alasan berbeda.
Bertoleransi adalah bentuk kepatuhan kita pada prinsip-prinsip universal hak asasi manusia, karena sesungguhnya keberagaman bukan saja fakta tapi juga kebutuhan bagi kita. Dengan meletakkan keberagaman sebagai kebutuhan, maka kita akan terus menerus mengupayakannya untuk tetap berbeda. Namun demikian, menghargai keberagaman bukan berarati kita toleran terhadap berbagai penyimpangan, karena toleransi bukanlah cara untuk menjustifikasi tindakan-tindakan apapun yang penting berbeda. Bukan pula afirmasi atas berbagai kekerasan yang terjadi. Toleransi yang kita dorong adalah bertolak dari prinsip pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia.
Saudara-saudara sekalian...
SETARA Institute bersama berbagai komunitas pegiat pluralisme lainnya terus menerus meyakinkan bahaya politik penyeragaman (suatu tindakan politik untuk menyeragamkan berbagai perbedaan dalam satu wadah yang tunggal). Kalau dahulu kita diseragamkan oleh politik otoritarianisme yang mengabdi pada kerakusan penguasa waktu itu, hari ini kita menangkap secara jelas bahwa penyeragaman dalam bentuk yang berbeda sedang merasuk ke dalam berbagai sektor. Penyeragaman hari didasari oleh logika mayoritas atas minoritas. Penyeragaman atas nama agama dan moralitas, penyeragaman pilihan-pilihan politik dalam bentuk penggerusan pluralitas politik warga, dan lainnya. Penyeragaman itu ditujukan untuk mengikuti dan menopang mereka yang secara antropologis mayoritas dengan menegasikan yang minoritas.
Penyeragaman dengan dalih apapun pasti menghasilkan peminggiran secara disengaja. Peminggiran, pembedaan, atas dasar perbedaan adalah diskriminasi yang ditentang oleh hak asasi manusia dan oleh Konstitusi RI. Kita menyaksikan peragaan penyeragaman atas dalih mayoritas mereka pongah menghalang-halangi kebebasan orang lain untuk mendirikan tempat ibadah dan bahkan untuk menjalankan tempat ibadah. Kita juga menyaksikan penghakiman terhadap kelompok-kelompok tertentu sebagai tidak bermoral, tidak beragama, atau bahkan dianggap sesat. Kita juga menyaksikan partai-partai politik menengah ke bawah mengais-ngais belas kasihan partai-partai besar yang memaksa mereka untuk berhimpun dalam wadah yang satu, demi alasan stabilitas politik. Padahal kita semua tahu stabilitas politik itu gagal diciptakan karena kelemahan kepemimpinan dan kerakusan elit politik, dan praktik politik yang tidak beretika.
Toleransi bukan obat dari segala jenis penyakit yang mampu menyembuhkan semua penyakit sosial-politik kita dewasa ini. Tapi toleransi adalah salah satu cara dan jembatan untuk kita terus menerus mengupayakan pengakuan atas segala perbedaan dan bagaimana membangun suatu tata kelola negara yang mampu menyantuni perbedaan sebagai modal pembangunan dan perdamaian.
Di akhir sambutan saya ini, kami bersama komunitas-komunitas yang hari ini mulai berhimpun dalam Perayaan Hari Toleransi mengajak kepada semua pihak untuk terus menerus terlibat dan mengupayakan agar toleransi menjadi salah satu landasan dan cara kita hidup bersama. Peluncuran Kampanye Toleransi yang hari ini dilakukan merupakan yang kedua dilakukan oleh SETARA Institute bersama komunitas-komunitas. Kampanye akan terus berlanjut dalam berbagai bentuk dan di komunitas masing-masing hingga pada 16 Nopember pekan depan kita akan menyerahkan 2011 surat atau kartu pos kepada Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono yang berisi dukungan kita agar Presiden RI bertindak memberikan jaminan kebebasan, keberagaman, termasuk jaminan kebebasan beragama/ berkeyakinan di Indonesia.
Demikian, kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai komunitas dan khususnya untuk Alex Komang yang berkenan menjadi bagian dari kampanye ini, termasuk menyediakan tempat kegiatan ini.
Selamat berkampanye! Terus Promosikan Hidup Toleran! Berpikir, Bertindak, dan Bertoleransi untuk selamatkan keberagaman kita.
Jakarta, 13 Nopember 2011
HENDARDI



Facebook Comments Box