Skip to main content

Masyarakat Resistan Islam Radikal

Posted in
22-11-2011

Hasil survei Setara Institute tentang persepsi publik tentang Islam radikal di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta menggambarkan, ternyata masyarakat resistan terhadap keberadaan kelompok-kelompok Islam radikal. Masyarakat juga menilai keberadaan kelompok itu dengan berbagai aktivitasnya mengakibatkan munculnya citra negatif terhadap agama dan umat Islam. Survei juga menyimpulkan, sangat sedikit anggota masyarakat yang bersedia mendukung kelompok Islam radikal.

Ketua Badan Pengurus Setara Institute Hendardi mengatakan, Jawa Tengah dan DIY dipilih sebagai tempat survei karena di daerah itu terdapat kelompok Islam radikal yang aktif menyebarkan gagasan dan perjuangannya ke sejumlah daerah lain. Jateng, terutama Solo, menurut Hendardi, menarik perhatian karena menjadi pemasok orang-orang yang siap berangkat ke sejumlah daerah yang dilanda konflik, seperti Poso dan Ambon.

Hal menarik lain yang membuat Jateng dan DIY menjadi lokasi survei adalah di daerah ini justru jarang terjadi kekerasan berdimensi agama, kecuali saat kerusuhan Temanggung dan peledakan bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo. ”Survei ini bagian dari riset komprehensif yang masih dilakukan terkait dengan Islam radikal di Jateng dan DIY, terutama menyangkut relasi dan transformasi gerakan. Riset komprehensif ini akan menjawab peta baru gerakan termasuk transformasinya dari organisasi radikal menjadi organisasi teroris,” kata Hendardi di Jakarta, Senin (21/11).

Jumlah responden survei 1.200 orang dengan margin of error 2,2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Pengambilan sampel melalui stratified random sampling, dengan menggunakan teknik wawancara tatap muka. Penetapan wilayah survei didasarkan kajian berbagai literatur yang menunjukkan di daerah tersebut terdapat organisasi Islam radikal, seperti Solo, Sukoharjo, Klaten, Temanggung Karanganyar, Pekalongan, Pemalang, Kendal (Jateng), Sleman, Yogyakarta, dan Bantul (DIY).

Wakil Ketua Badan Pengurus Setara Institute Bonar Tigor Naipospos mengungkapkan, meskipun hasil survei menunjukkan ada persamaan antara kelompok Islam radikal dan kelompok teroris, terutama dari segi tujuan, ditambah kelompok Islam radikal tak pernah secara terbuka menentang terorisme atas nama agama, responden juga membedakan kelompok Islam radikal dengan kelompok teroris. ”Bahwa memang ada perbedaan kelompok radikal dengan teroris di mata responden, antara lain kekerasan yang dilakukan kelompok radikal tidak mengakibatkan hilangnya nyawa, seperti yang dilakukan teroris,” kata Bonar.

Terkait hal itu, hasil survei menunjukkan, mayoritas responden tidak setuju dengan pernyataan bahwa Islam membenarkan cara-cara kekerasan yang dilakukan kelompok Islam radikal. Responden juga menolak menyamakan jihad dengan kekerasan.

Resistansi terhadap kelompok Islam radikal ini terlihat dari mayoritas responden (82 persen) yang menyatakan tidak mendukung keberadaan organisasi Islam radikal dalam bentuk pemberian sumbangan atau sebagai pengikut (78.7 persen). (BIL)