• strict warning: Non-static method view::load() should not be called statically in /var/www/cms/m6/views/views.module on line 1113.
  • strict warning: Declaration of views_handler_field::query() should be compatible with views_handler::query($group_by = false) in /var/www/cms/m6/views/includes/handlers.inc on line 98.
  • strict warning: Declaration of views_handler_sort::options_validate() should be compatible with views_handler::options_validate($form, &$form_state) in /var/www/cms/m6/views/includes/handlers.inc on line 98.
  • strict warning: Declaration of views_handler_sort::options_submit() should be compatible with views_handler::options_submit($form, &$form_state) in /var/www/cms/m6/views/includes/handlers.inc on line 98.
  • strict warning: Declaration of views_handler_sort::query() should be compatible with views_handler::query($group_by = false) in /var/www/cms/m6/views/includes/handlers.inc on line 98.
  • strict warning: Declaration of views_handler_filter::options_validate() should be compatible with views_handler::options_validate($form, &$form_state) in /var/www/cms/m6/views/includes/handlers.inc on line 98.
  • strict warning: Declaration of views_handler_filter::query() should be compatible with views_handler::query($group_by = false) in /var/www/cms/m6/views/includes/handlers.inc on line 98.
  • strict warning: Non-static method views_many_to_one_helper::option_definition() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /var/www/cms/m6/views/handlers/views_handler_filter_many_to_one.inc on line 23.
  • strict warning: Non-static method views_many_to_one_helper::option_definition() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /var/www/cms/m6/views/handlers/views_handler_filter_many_to_one.inc on line 23.
  • strict warning: Declaration of views_plugin_query::options_submit() should be compatible with views_plugin::options_submit($form, &$form_state) in /var/www/cms/m6/views/includes/handlers.inc on line 98.
  • strict warning: Declaration of views_plugin_row::options_validate() should be compatible with views_plugin::options_validate(&$form, &$form_state) in /var/www/cms/m6/views/includes/handlers.inc on line 98.
  • strict warning: Non-static method view::load() should not be called statically in /var/www/cms/m6/views/views.module on line 1113.
  • strict warning: Non-static method views_many_to_one_helper::option_definition() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /var/www/cms/m6/views/handlers/views_handler_filter_many_to_one.inc on line 23.
  • strict warning: Non-static method views_many_to_one_helper::option_definition() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /var/www/cms/m6/views/handlers/views_handler_filter_many_to_one.inc on line 23.

Masihkah Ada Harapan?

Oleh: Benny Susetyo
Sekretaris Nasional Dewan Setara Institute

Para tokoh agama menyerukan kepada pasangan capres dan cawapres agar memfokuskan perhatian pada agenda dan program pembangunan yang jelas dan terukur dalam mengakhiri transisi kehidupan bangsa dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya, terutama untuk mengatasi kemiskinan, pengangguran, dan rendahnya kualitas hidup rakyat. Capres dan cawapres beserta tim suksesnya mesti menghormati perbedaan pilihan, pluralitas agama, keyakinan, serta kemajemukan ras, suku, dan budaya. Para capres dan cawapres hendaknya menghindari sentimen kesukuan, agama, dan ras demi mendapatkan kekuasaan. Para tokoh agama mengimbau capres dan cawapres bersaing secara sehat, cerdas, dan berkeadaban.

"Pemilihan presiden dan wakil presiden merupakan pencerminan dari budaya dan moralitas bangsa Indonesia yang luhur. Karena itu, selama berkampanye para capres dan cawapres hendaknya menggunakan cara-cara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, saling menghormati, mencerdaskan, dan memberikan pencerahan pada rakyat," saran mereka. Seluruh rakyat yang memiliki hak memilih diminta menggunakan hak politiknya secara mandiri, cerdas, dan kritis sebagai tanggung jawab bagi masa depan bangsa. Imbauan juga dilontarkan kepada KPU supaya bekerja keras, penuh dedikasi, dan profesional.

Selain memperbaiki data pemilih, KPU hendaknya juga memberikan kemudahan agar para pemilih dapat menggunakan hak politiknya dengan bebas, rahasia, dan aman. Para tokoh agama mengharapkan media massa bersikap netral dan memberikan pendidikan politik berkualitas, cerdas, dan beradab. Sebab, media massa memiliki peran yang sangat strategis untuk memberikan informasi yang akurat dan seimbang bagi masyarakat. Seruan ini mengajak semua umat beragama untuk memperhatikan hal mendasar.

Kini, dengan sedih dapat dikatakan, begitu sulit mencari pemimpin yang bisa diandalkan untuk menolong wong cilik dari deraan mesin-mesin pembangunan. Dan sejauh era reformasi ini, kita belum menemukan sosok penguasa yang tegas dan lantang membela mereka.

Publik Bingung

Perdebatan tentang siapa yang seharusnya menjadi pihak paling bertanggung jawab ditarik ulur sedemikian rupa sampai terjadi ketidakjelasan pada publik atas apa sebenarnya masalah ini. Para pembuat opini pun berhasil membuat publik bingung atas masalah ini. Mentalitas "lempar batu sembunyi tangan" masih mengental dalam darah kalangan penguasa sekaligus pengusahanya. Mereka hanya berpikir kepentingan dirinya sendiri. Sejatinya, mereka berada berfungsi untuk melindungi. Bila tanggung jawab sudah diabaikan, rakyat selalu berada pada barisan paling depan korban.

Betul bahwa negara harus bertanggung jawab terhadap permasalahan rakyatnya. Tetapi, pada level mana dan segi apa? Itu harus jelas porsinya. Bila negara yang diwakili oleh para pejabat dan politisinya benar-benar memiliki keberpihakan kepada rakyat, maka ia seharusnya berada di garis paling depan untuk membela hak-hak rakyat yang dicerabut oleh kepentingan bisnis yang mengabaikan moralitas. Bagaimana kenyataannya? Kalangan penguasa bekerja lebih banyak didorong oleh insting kekuasaan dan kepentingan dirinya, bukan rakyat. Membela dan menjadi garda depan baris perjuangan rakyat dalam jangka pendek sangat tidak menguntungan secara politis dan ekonomis. Itulah mengapa negara lebih memihak kalangan pengusaha yang sering menguntungkan daripada rakyat yang menjadi korban. Hal seperti ini terjadi dalam berbagai kesempatan dan kasus. Kalangan penguasa lalai dengan apa fungsi kekuasaannya dan kalangan pengusaha lalai dengan akuntabilitas usahanya yang kerap berpotensi mencelakakan rakyat. Kita bisa melihat berbagai kasus yang terjadi dari ujung timur sampai barat Nusantara ini dengan modus yang serupa. Ingin selamat dalam jangka pendek dengan mengorbankan harga diri dan mengkhianati perjuangan rakyat.

Seolah-olah kita melalaikan perjuangan masa lalu, di mana para elite politik selalu berada di garis depan untuk mengusir penjajah. Rakyat berada di belakang mendorong mereka untuk membuat pilihan, merdeka atau mati. Mereka berjuang bersama-sama untuk merebut kemerdekaan.

Heroisme perjuangan masa lalu itu kini hanya tinggal kenangan. Semakin lama elite kita sudah enggan menerapkan peranan pelaku sejarah. Mereka hanya berpikir diri dan golongannya. Korban lumpur Lapindo menjadi saksi di mana heroisme berjuang bersama-sama rakyat itu sudah luntur. Kini, kalangan penguasa berjuang bersama pengusaha mencari nama baik dengan cara memanipulasi rekayasa. Watak "mencari selamat sendiri-sendiri" inilah yang menurut Romo Mangun membuat Indonesia sulit lepas dari belenggu. Kita terus-menerus didera masalah karena fungsi hakiki yang seimbang dari poros negara - bisnis - rakyat ditafsirkan untuk kepentingan dirinya sendiri.

Moralitas publik, di manakah dia? Ia hilang dengan tanda penguasa yang hampa integritas moralnya untuk berani berjuang bersama rakyat menuntut keadilan. Kalangan pengusaha juga demikian, tanggung jawabnya melepuh, karena profit dan nama baik yang dijadikan sebagai satu-satunya benteng perlindungan bisnisnya. Tragedi ini menjadi cermin gagalnya bangsa ini menciptakan bela rasa terhadap warganya. Masihkah ada cara untuk memperjuangkan keadilan agar tetap tegak di bumi Nusantara ini?

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=8562

Facebook Comments Box