Di Atas Kaki Sendiri
Buku Di Atas Kaki Sendiri menguak berbagai kekerasan atas nama agama, dan bagaimana perempuan, yang dijadikan warga kelas dua di Indonesia, telah berjuang dan berjasa dalam mengatasi konflik ini. Sebuah buku yang menyentuh! Kata Soe Tjen Marching. Tuturan senada disampaikan Cok Sawitri bahwa sungguh aneh, kita hidup di negara yang membiarkan orang-orang brutal dan berbohong, seolah paling tahu mana keyakinan yang paling benar di dunia tanpa mengindahkan perilakunya sendiri, yang belum tentu lebih baik dan disukai oleh yang diyakininya. Dan negara, ajaibnya, berdalih dengan segala rupa dan upayanya, bahkan atas nama kehidupan sosial itu sendiri.
Karena itu, menurut Pendeta Ester Mariani, setelah membaca buku ini, tiba-tiba saya sadar dan bertanya, apakah negara Pancasila dan UUD Negara RI 1945 ini secara diam-diam telah dicuri? Apakah Negara ini telah berubah menjadi negara Agama? Husein Muhammad menegaskan buku ini penting menjadi referensi para penyelenggara negara guna memperbaiki kebijakan-kebijakan dan tindakan-tindakannya, sehingga sejalan dan tidak melawan Konstitusi RI.
Agama seharusnya menjadikan manusia semakin manusiawi dan mempersatukan mereka, bukannya memecah belah. Namun, kenyataannya, di Indonesia, agama digunakan untuk membenarkan kekerasan, kekejaman dan penindasan. Seringkali, hal ini tidak disadari akibat mereka yang melakukan bertopengkan agama. Buku Di Atas Kaki Sendiri menguak berbagai kekerasan atas nama agama, dan bagaimana perempuan, yang dijadikan warga kelas dua di Indonesia, telah berjuang dan berjasa dalam mengatasi konflik ini. Sebuah buku yang menyentuh!
Soe Tjen Marching, Feminis, Komponis, Penulis
Ketika membaca buku ini, saya tahu ada proses yang disengaja melahirkan warga kelas dua karena keyakinan yang berbeda. Apalagi jika minoritas itu tak hanya karena keyakinan, ditambah warna kulit, ras, asal muasal bahkan jenis kelamin, semisal perempuan. Dapat dibayangkan bisa berlapis ketertindasan yang akan dirasakan. Sungguh aneh, kita hidup di negara yang membiarkan orang-orang brutal dan berbohong, seolah paling tahu mana keyakinan yang paling benar di dunia tanpa mengindahkan perilakunya sendiri, yang belum tentu lebih baik dan disukai oleh yang diyakininya. Dan Negara, ajaibnya, berdalih dengan segala rupa dan upayanya, bahkan atas nama kehidupan sosial itu sendiri.
Cok Sawitri, Sastrawan
Buku ini merupakan pendokumentasian fakta sejarah tentang pengabaian dan pembiaran negara atas pelanggaran HAM terhadap Jamaah Ahmadiyah Indonesia. Melalui buku ini, siapapun tidak bisa lagi mengingkarinya. Buku ini dapat dijadikan bukti untuk menuntut negara atas pelanggaran HAM, pembiaran dan kegagalan negara melindungi warganya untuk menjalankan hak asasinya dalam memeluk dan menjalankan agamanya. Setelah membaca buku ini, tiba-tiba saya sadar dan bertanya, apakah tanpa kita sadari, negara Pancasila dan UUD Negar RI 1945 ini secara diam-diam telah dicuri? Apakah negara ini telah berubah menjadi negara agama? Buku ini wajib dibaca oleh para pejuang HAM, pemerintah, legislator, pimpinan agama dan siapa pun yang peduli akan nasib bangsa ini.
Pdt. Ester Mariani Rihi Ga, M.Si., Rohaniawan
Saya benar-benar terpukau sekaligus berdebar-debar membaca buku ini. Ia bukan saja berhasil mengeksplorasi pengalaman korban dan memetakan berbagai fakta intoleransi dan kekerasan atas nama agama dan moralitas di negeri ini. Tetapi juga menyuguhkan tanda-tanda rapuhnya otoritas negara dalam melindungi warganya dan menjaga secara konsisten pilar-pilar negara bangsa. Buku ini penting untuk menjadi referensi para penyelenggara negara guna memperbaiki kebijakan-kebijakan dan tindakan-tindakannya, sehingga sejalan dan tidak melawan konstitusi NRI.
Husein Muhammad, Komisioner Komnas Perempuan dan Ketua Dewan Kebijakan Fahmina Institute, Cirebon.
Hubungi SETARA INSTITUTE untuk mendapatkan buku ini.


Facebook Comments Box