Bukti Paling Nyata Kebohongan SBY!
Intoleransi & Kekerasan Atas Nama Agama
08-02-2011
-
Pengrusakan tiga gereja dan properti pengadilan di Temanggung Jawa Tengah merupakan peragaan intoleransi dan kekerasan yang dilakukan oleh organisasi Islam garis keras. SETARA Institute mengecam keras pengrusakan tempat ibadah dan pengrusakan Gedung Pengadilan Negeri Temanggung. Peristiwa ini menambah daftar panjang praktik intoleransi dan kekerasan atas nama agama di Indonesia. Sepanjang 2010 Laporan SETARA Institute mencatat jemaat Kristiani mengalami 75 pelanggaran kebebasan beragama/ berkeyakinan dan 43 di antaranya berupa penyerangan, pengrusakan, dan pelarangan pendirian tempat ibadah. Sementara pada tahun 2008 dan 2009 jemaat Kristiani mengalami 17 dan 18 tindakan pelanggaran.
SETARA Institute mengingatkan bahwa berbagai fakta kebohongan yang disampaikan oleh para tokoh agama beberapa waktu lalu, memang nyata dan terbukti. Fakta intoleransi dan kekerasan atas nama agama atau terhadap agama/keyakinan minoritas lainnya merupakan bukti paling nyata kebohongan pemerintahan SBY.
Berbagai kekerasan dan fakta pelanggaran atas nama agama, termasuk pembantaian jemaat Ahmadiyah Minggu (6/2), bukan semata soal SKB Ahmdiyah, PBM tentang Rumah Ibadah, konflik pendirian rumah ibadah, dan tuduhan penodaan agama. Yang paling nyata adalah adanya organisasi-organisasi Islam garis keras pengusung aspirasi intoleran dan menggunakan kekerasan dalam memperjuangkan gagasannya. Organisasi Islam pengusung aspirasi intoleran telah secara efektif memanfaatkan kondisi masyarakat yang rentan provokasi untuk melakukan aksi-aksi kekerasan.
Negara tidak boleh tinggal diam melihat fakta intoleransi dan kekerasan yang diusung oleh organisasi pengusung aspirasi intoleran ini. Tindakan kriminal, kekerasan yang memiliki pola, modus, spirit, dan sasaran yang sama sudah cukup jelas, bahwa organisasi Islam garis keras yang selalu di garda depan berbagai aksi pengrusakan harus ditindak dan diproses secara hukum.
Penyebab pokok dari semakin tingginya aksi-aksi kekerasan ini adalah karena negara lalai dan mengabaikan berbagai masukan perbaikan dalam rangka menciptakan situasi yang kondusif bagi jaminan kebebasan beragama berkeyakinan dan membiarkan secara terus menerus organisasi Islam garis keras mengambil alih penegakan hukum dan main hakim sendiri.
Kontak Person:
Hendardi (Ketua SETARA Institute, 0811170944)
Ismail Hasani (Peneliti SETARA Institute, 08111884787)



Facebook Comments Box