Toleransi Sosial Masyarakat Perkotaan

Hasil Survey
29-11-2010

Di tengah-tengah kekosongan ideologi transformatif yang diwariskan negara Orde Baru, ’alineasi’ dan frustrasi masyarakat urban Jabodetabek yang berada di lapis bawah akhirnya ’menemukan’ Islam sebagai jawaban yang rupanya lebih dapat memberikan jaminan ’kepastian’—terlepas dari kenyataan bahwa mereka, atau setidak-tidaknya sebagian dari mereka, berasal kalangan yang secara ritual justru tergolong biasa saja atau bahkan tidak taat.

Rangkaian hasil temuan survey ini, dengan demikian, dapat memberikan gambaran bahwa ’Islam’ agaknya bukan faktor utama yang menyebabkan terjadinya sikap intoleran. Jika asumsi ini dapat diterima, maka ’Islam’ sesungguhnya tidak lebih dari katalisator -yang suatu saat dapat menjadi kanal- dari frustasi yang dialami warga Jabodetabek yang berada di lapis bawah.

Hari ini warga Jabodetabek cenderung intoleran, namun masih menolak fundamentalisme, kekerasan atas nama agama dan formalisasi syariah Islam. Jika kondisi eksternal mereka—terutama ekonomi dan politik—tidak banyak mengalami perubahan yang berarti atau bahkan bertambah buruk, maka tidak tertutup kemungkinan sikap intoleran warga Jabodetabek dapat mengalami metamorfosis menjadi massa yang siap dimobilisasi oleh gerakan Islam fundamentalis.

Survey opini publik di Jakarta, Bogor, Bekasi dan Tangerang.

Facebook Comments Box