Di tengah-tengah kekosongan ideologi transformatif yang diwariskan negara Orde Baru, ’alineasi’ dan frustrasi masyarakat urban Jabodetabek yang berada di lapis bawah akhirnya ’menemukan’ Islam sebagai jawaban yang rupanya lebih dapat memberikan jaminan ’kepastian’—terlepas dari kenyataan bahwa mereka, atau setidak-tidaknya sebagian dari mereka, berasal kalangan yang secara ritual justru tergolong biasa saja atau bahkan tidak taat. [read]